BIN mengingatkan anak muda agar berpikir kritis terhadap radikalisme.
Liputan6.com, Jakarta - Juru Bicara Badan Intelijen Negara Wawan Hari Purwanto mengingatkan bahaya paham radikalisme menyusup melalui kaum muda. Paham radikalisme menyasar kaum muda usia 17-24 tahun. Alasannya, para pemuda masih enerjik dan tengah mencari jati diri.
"Banyak juga anak muda umur 18 yang terlibat bom bunuh diri. Kemudian juga ikut ke Timur Tengah, Mossul, Suriah dan lain lain. Kemudian juga yang terlibat bom-bom di tanah air. Juga di medsosnya bermacam-macam termasuk ada yang berbaiat," tutur Wawan. "Biasanya riang tiba tiba pendiam kemudian kumpul dengan orang yang tidak semestinya. Orang tua juga tidak tahu, pergi lama pulang ke rumah langsung dekem di kamar. Suka marah-marah. Minta uang maksa. Ini adalah indikasi," terangnya.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Ini Ciri-ciri Pak Ogah Pelaku Begal Payudara di Bintaro TangselDua orang 'pak ogah' di kawasan Bintaro Sektor 9, Tangerang Selatan, diduga meremas payudara seorang remaja putri berusia 17 tahun. Pelaku diburu polisi. pelecehan begalpayudara
Baca lebih lajut »
Ciri-Ciri Ketuban PecahAir ketuban bisa saja pecah sebelum usia kehamilan cukup bulan untuk melahirkan.
Baca lebih lajut »
Sebelum Membeli, Pastikan Kelayakan Hewan Kurban Lewat 10 Ciri IniAda ciri-ciri perilaku yang bisa kita lihat untuk memeriksa kelayakan hewan kurban. Apa saja?
Baca lebih lajut »
Ciri Khas Nyeri Dada Akibat Serangan JantungAda tiga ciri khas nyeri dada akibat serangan jantung.
Baca lebih lajut »
BIN: penyelenggara negara harus steril ideologi berbedaJuru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Purwanto menyatakan calon penyelenggara negara dan aparat keamanan harus steril dari ideologi yang berbeda ...
Baca lebih lajut »
BIN Tegaskan TNI Harus Steril dari Ideologi Non-PancasilaJuru bicara BIN menyatakan sangat berbahaya bila ada calon prajurit TNI yang tidak steril dari ideologi berbeda dari Pancasila dan NKRI.
Baca lebih lajut »