Presiden China Xi Jinping akan membuat terjemahan Al Quran yang menggabungkan antara nilai-nilai Islam dan Konfusianisme.
Proses ini menyasar lima agama yang diakui di China, yakni Kristen Katolik, Kristen Protestan, Islam, Buddha, dan Taoisme.
Khusus untuk sinifikasi Al Quran, Partai Komunis China ingin menancapkan pengaruh nilai-nilai Tiongkok dengan membuat Al Quran serta hadis dalam versi terjemahan terbaru.Penafsiran tersebut merujuk ke koleksi terjemahan dan tulisan Islam Dinasti Qing dalam Bahasa Mandarin yang dikenal sebagai Kitab Han. Kitab ini merupakan kumpulan teks Islam yang menggunakan konsep konfusianisme untuk menjelaskan teologi Islam.
Menurut jurnal dari Universitas Indonesia berjudul"Konfusianisme dalam Kebudayaan China Modern", menyebut ajaran ini juga bertujuan untuk mendidik dan menekankan agar negara bisa melayani masyarakat.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Seperti Apa Al Quran versi China yang Akan Dibuat Xi Jinping?Presiden Xi Jinping bakal memodifikasi terjemahan Al Quran yang menggabungkan nilai Islam-Konghucu sebagai bagian dari sinifikasi.
Baca lebih lajut »
Heboh Xi Jinping Buat Al-Quran Versi China, Seperti Apa?Pemerintah China dilaporkan membuat Al-Quran versinya sendiri.
Baca lebih lajut »
Al Quran versi China Buatan Xi Jinping sampai India-Kanada MemanasPresiden China Xi Jinping disebut bakal memodifikasi Al Quran versi China, gabungan nilai Islam dan Konghucu.
Baca lebih lajut »
Xi Jinping Ingin Buat Al Quran Versi China, Gabungan Islam-KonghucuChina berencana 'modifikasi' Al Quran dengan isi yang digabungkan antara nilai-nilai Islam dan Konghucu.
Baca lebih lajut »
Alasan Xi Jinping Mau Bikin Al Quran versi ChinaXi Jinping ingin memodifikasi Al Quran versi China dengan nilai Konghucu demi memperkuat pengaruh Tiongkok atas Islam.
Baca lebih lajut »
Vladimir Putin dan Xi Jinping Dijadwalkan Bertemu Bulan Depan, Dalam Rangka Apa?Putin terakhir kali mengunjungi Beijing pada Februari 2022, beberapa hari sebelum invasi Rusia terhadap Ukraina dimulai.
Baca lebih lajut »