Plasma konvalesen diambil dari donor pasien covid-19 yang telah sembuh.
DARAH terdiri dari komponen yang berbentuk cair dan non-cair. Plasma darah adalah komponen darah berbentuk cair berwarna kuning yang menjadi medium sel-sel darah. Komponen non-cair berupa sel-sel baik sel darah merah atau sel darah putih. Lebih kurang 55% dari volume atau jumlah darah merupakan plasma darah. Volume plasma darah terdiri dari 90% berupa air, 10% berupa larutan protein, glukosa, faktor koagulasi, ion mineral, hormon dan karbon dioksida.
Pada 2012 digunakan untuk penyakit corona virus MERS. Karenanya, WHO telah merekomendasikan terapi dengan plasma konvalesen untuk pasien yang terserang virus seperti ebola, SARS dan H1N1 pada 2014. Di Kota Wuhan, Tiongkok tempat pertama meledak pandemi covid-19, telah menggunakan terapi plasma konvalesen dan hasilnya menunjukkan perbaikan yang bermakna.
Meski begitu peneliti menyampaikan bahwa untuk dosis yang optimal, waktu pemberian, dan manfaat klinis yang lebih optimal memerlukan uji klinik yang besar dan terkendali. Uji klinik yang besar ini perlu oleh karena penelitian lain di Wuhan, yang diterbitkan di Jurnal Kedokteran Amerika melibatkan sekitar 100 pasien, kurang memberikan perbaikan yang bermakna.
Tentu tidak terbatas kepada kedua institusi tersebut dukungan dari Laboratorium Bio Molekuler Eijkman, LIPI, BPOM dan Kementerian Kesehatan serta bergabung institusi lain seperti Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Pada saat yang sama di RSPAD juga sudah mulai dilakukan, mungkin ada juga rumah sakit lain yang melakukan hal serupa.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Dokter: Plasma konvalesen bantu pasien COVID-19 lepas ventilatorKepala Unit Transfusi Darah RSPAD Gatot Soebroto dr. Dwi Novianingtyas, SpPK mengatakan terapi pengobatan COVID-19 dengan menggunakan plasma konvalesen membantu pasien COVID-19 terlepas dari ketergantungan ventilator. COVID19
Baca lebih lajut »
Demam Tinggi, Gejala DBD atau Virus Corona? Ini BedanyaDBD dan virus Corona COVID-19 sama-sama menyebabkan gejala demam. Namun, apa yang membedakan gejala demam karena virus Corona COVID-19 dengan DBD? dbd via detikHealth
Baca lebih lajut »
Bertambah 862, Kasus Positif Corona di RI Per 21 Juni Jadi 45.891UpdateCorona Kasus positif virus Corona (COVID-19) di Indonesia bertambah 862 hari ini. Dengan penambahan tersebut, total kasus positif COVID-19 menjadi 45.891. VirusCorona CoronaIndonesia
Baca lebih lajut »
Data Pasien Covid-19 Bocor, BSSN Koordinasi dengan Kemenkes |Republika OnlineBSSN berkoordinasi dengan Kemenkes soal bocornya data pasien Covid-19.
Baca lebih lajut »
BSSN: Tidak Ada Kebocoran Data Pasien Covid-19BSSN telah berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas untuk memastikan keamanan data pasien Covid-19.
Baca lebih lajut »