Negara-negara Arab juga disebut menentang kelompok ekstremis agama di Xinjiang.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 19 negara Arab mendukung kebijakan China di Hong Kong dan Xinjiang. Dukungan itu disampaikan dalam pertemuan kesembilan tingkat menteri Forum Kerja Sama China-Negara-Negara Arab .
Negara-negara Arab, lanjut dia, juga menentang berbagai aktivitas anti-China yang dilakukan oleh kelompok ekstremis agama, kelompok separatis, dan pasukan teroris di Daerah Otonomi Xinjiang. "Kedua pihak menekankan pentingnya solidaritas dan kerja sama sebagai senjata utama dalam komunitas internasional untuk memerangi pandemi," ujar Zhao.
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
19 negara Arab dukung kebijakan China di Hong Kong dan XinjiangSebanyak 19 negara Arab mendukung kebijakan China di Hong Kong dan Xinjiang yang disampaikan dalam pertemuan kesembilan tingkat menteri Forum Kerja Sama ...
Baca lebih lajut »
Mesir Jadi Episentrum Covid-19 Terbesar Ketiga di Arab, WNI Diminta Waspada – Bebas AksesSaat ini, hanya satu dari sekitar 7.000 WNI di negara tersebut yang positif Covid-19. WNI di Mesir diimbau agar waspada di tengah tingginya kurva positif Covid-19 di negara ini dengan cara menjalankan protokol kesehatan.
Baca lebih lajut »
5 Protokol Tambahan Covid-19 Arab Saudi untuk Ekspatriat |Republika OnlineArab Saudi mengeluarkan protokol tambahan untuk ekspatriat.
Baca lebih lajut »
Arab Saudi Ijinkan Nakes Sembuh dari Covid-19 Ikut Haji |Republika OnlineCalon jamaah haji harus menyerahkan sertifikat telah menjalani tes PCR.
Baca lebih lajut »
Kasus Covid-19 Tinggi, Arab Saudi Batasi HajiArab Saudi menjadi salah satu negara dengan tingkat infeksi virus corona tertinggi di Timur Tengah, dengan lebih dari 213 ribu penderita terkonfirmasi dan hampir dua ribu kematian hingga hari Selasa (
Baca lebih lajut »
India Salip Rusia Jadi Negara Ketiga Tertinggi Covid-19 |Republika OnlineIndia mencatat hampir 700 ribu kasus Covid-19
Baca lebih lajut »