Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia menyampaikan protes resmi terhadap pernyataan Presiden UEFA Aleksander Ceferin yang menyebut perluasan ke 48 tim berpotensi mengurangi kelayakan pertandingan. Pernyataan bersama menegaskan bahwa setiap kualifikasi dan pertandingan memiliki makna historis bagi negara-negara Participants, mengkritik pandangan Ceferin sebagai mengabaikan pengorbanan dan aspirasi komunitas sepak bola global. Kontroversi muncul di tengah persiapan turnamen yang juga diwarnai masalah visa, harga tiket, dan polemik format kompetisi.
Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia melayangkan protes resmi dan mengecam pernyataan Presiden UEFA Aleksander Ceferin yang memicu kontroversi di tengah persiapan turnamen. Sebanyak 13 negara peserta Piala Dunia secara resmi melayangkan protes dan kecaman terhadap pernyataan Presiden UEFA , Aleksander Ceferin .yang diselenggarakan secara bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, di mana sebelumnya perhelatan ini juga telah diwarnai berbagai tantangan operasional.edisi kali ini memang cukup beragam, mulai dari masalah visa di perbatasan AS yang menghambat mobilitas suporter, hingga mahalnya harga tiket dan konsumsi di stadion.
Namun, sorotan utama kini tertuju pada kritik Ceferin terkait perluasan format kompetisi menjadi 48 tim. Ceferin sebelumnya melontarkan komentar bahwa perluasan jumlah peserta berpotensi menyajikan pertandingan yang dinilainya kurang menarik karena adanya penurunan standar kompetisi berkat kuota kualifikasi yang bertambah. Menanggapi hal tersebut, ketiga belas negara tersebut merilis sebuah pernyataan bersama yang menyuarakan kekecewaan mendalam mereka terhadap pandangan tersebut.
"Bagi negara kami, tidak ada pertandingan Piala Dunia yang tidak penting. Bagi Cape Verde, Curacao, dan Uzbekistan, kualifikasi ke Piala Dunia FIFA merupakan pencapaian bersejarah dan perwujudan mimpi yang telah diimpikan oleh beberapa generasi. ” "Bagi negara-negara seperti Kongo dan Haiti, kembali ke panggung sepak bola terbesar setelah absen lama memiliki makna khusus bagi jutaan pendukung yang telah menunggu bertahun-tahun, dan dalam beberapa kasus puluhan tahun, untuk momen ini.
" "Mengatakan bahwa pertandingan-pertandingan ini kurang penting adalah hal yang sangat mengecewakan dan gagal mengakui upaya, pengorbanan, dan aspirasi para pemain, pelatih, klub, pemimpin sepak bola, dan pendukung di seluruh dunia," lanjut bunyi pernyataan tersebut. Presiden UEFA Aleksander Ceferin memberi isyarat saat konferensi pers menyusul pertemuan komite eksekutif di markas UEFA, di Nyon, Swiss pada 4 Desember 2019. Pernyataan bersama tersebut juga menekankan arti penting dari setiap proses yang dilalui oleh negara-negara peserta untuk bisa menembus putaran final.
“Di balik setiap kualifikasi terdapat kerja keras dan investasi selama bertahun-tahun. Di balik setiap tim nasional terdapat seluruh komunitas dan jutaan orang yang melihat sepak bola sebagai sumber kebanggaan, harapan, dan persatuan.
" "Sepak bola bukan milik sekelompok negara tertentu. Kekuatannya berasal dari universalitasnya. Piala Dunia FIFA adalah kompetisi sepak bola terbesar di dunia justru karena menyatukan berbagai budaya, sejarah yang berbeda, dan perjalanan sepak bola yang berbeda. ” “Bagi banyak negara, partisipasi dalam Piala Dunia FIFA bukan hanya prestasi olahraga.
Ini adalah momen yang menginspirasi satu generasi, mempercepat perkembangan sepak bola, dan menciptakan kenangan yang abadi.
" "Kami percaya bahwa setiap negara yang lolos kualifikasi layak mendapatkan rasa hormat. Setiap tim telah mendapatkan tempatnya berdasarkan prestasi. Setiap pendukung berhak untuk bermimpi. Setiap pertandingan memiliki makna bagi jutaan orang di seluruh dunia.
"dan menegaskan kembali keyakinan kami bahwa pertumbuhan sepak bola harus terus menciptakan peluang, menginspirasi generasi baru, dan memperkuat sifat global sejati dari permainan kami. “Setiap tim lolos berdasarkan prestasi. Setiap pertandingan penting. ” Di sisi lain, pandangan sang pemimpin otoritas sepak bola Eropa tersebut menuai sorotan karena dinilai bertolak belakang dengan kebijakannya sendiri.
Sebab, UEFA juga telah merombak format Liga Champions agar dapat menampung lebih banyak tim dan menyajikan jumlah laga yang lebih padat, yang memicu masalah penjadwalan hingga risiko cedera pemain. KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Target Juara Piala Dunia 2050?
Jepang Ingin Wujudkan Mimpi Itu SekarangAmran Peringatkan Pedagang: Beras Kita Melimpah, Jangan Mainkan Harga! Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ada Apa? Istana Minta Mahasiswa Dukung Prabowo: Dia Paling Depan Melawan Kebocoran APBNApresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami. Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.comApresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial. Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com. KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
Protests Aleksander Ceferin Piala Dunia Penyebutan 48 Tim Kualifikasi UEFA Perluasan Kontroversi
Indonesia Berita Terbaru, Indonesia Berita utama
Similar News:Anda juga dapat membaca berita serupa dengan ini yang kami kumpulkan dari sumber berita lain.
Hakimi melontarkan pernyataan pedas menjelang laga melawan BrasilAshraf Hakimi, kapten tim nasional Maroko, melontarkan pernyataan tegas menjelang laga yang dinanti melawan Brasil dalam pertandingan Grup C Piala Dunia 2026, dengan menegaskan bahwa 'Singa Atlas' siap menghadapi Seleção dan meraih hasil positif pada laga pembuka.
Baca lebih lajut »
Deret Pernyataan KPK hingga Klarifikasi Raffi Ahmad Disebut di Kasus Blueray CargoRaffi Ahmad, disebut oleh KPK dalam kasus dugaan suap terkait importasi barang di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan.
Baca lebih lajut »
Presiden Jerman Dijadwalkan Temui Presiden Prabowo di Istana BesokPresiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia pada Senin, 15 Juni 2026. Dalam lawatan yang berlangsung selama satu
Baca lebih lajut »
Soroti Kasus Bea Cukai, Gus Lilur: Pembantu Presiden Harus Benar-benar Membantu PresidenGus Lilur menilai Presiden Prabowo Subianto membutuhkan pembantu yang memiliki keberanian, integritas, patriotisme, dan harga diri dalam membela kepentingan negara.
Baca lebih lajut »




